Senin, 16 Januari 2012

SEJARAH TAHUN BARU MASEHI

Kalender Masehi Milik Orang Nasrani ..?????!!

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang (matahari) itu terang benderang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan waktu. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas”. (Qur'an surah Al Isra’: 12) 

Banyak orang menyangka bahwa Kalender Matahari atau disebut Kalender Masehi adalah milik kaum Nasrani. Di Indonesia pendapat seperti ini hampir berurat berakar dalam masyarakat. Bahkan, banyak hari ini orang yang mencela dengan pedas kaum muslimin yang masih mempergunakan kalender Masehi dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai Muslim pengekor kaum kuffar. 

Benarkah kaum muslimin yang memakai Kalender Masehi pengekor kaum kuffar? 

Ada yang mengatakan kita kaum muslimin sudah punya kalender sendiri, kalender Islam, kalender Sunnah, yakni kalender Hijriyah. Maka, memakai kalender Masehi berarti mencampakkan dan menghina kalender Islam! Benarkah pendapat ini? 

Dalam perjalanan sejarah dunia, paling tidak ada dua jenis kalender yang dipakai untuk perhitungan waktu bagi manusia. Suku Maya di Amerika Latin dan orang-orang Mesir di Afrika, menurut bukti sejarah yang ada telah menggunakan dan mengembangkan kalender Matahari dalam kehidupan sehari-hari mereka pada kurun waktu 5000 tahun Sebelum Masehi. 

Julius Caesar yang berkuasa pada sekitar 200 tahun SM telah menggunakan dan mempopulerkan Kalender Matahari (Masehi) di seluruh tanah jajahan Romawi. Dengan demikian, pada saat Yesus lahir di Palestina, masyarakat Palestina otomatis memakai perhitungan Kalender Matahari, sebagai konsekuensi tanah jajahan Romawi pada saat itu. 

Sebaliknya, masyarakat Arab telah terbiasa selama ribuan tahun memakai Kalender Bulan untuk perhitungan hari-hari mereka. Itulah sebabnya ketika Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dilahirkan, mereka sudah dapat mencatat harinya, yaitu, Senin 12 Rabi'ul Awwal. Hanya tahunnya saja yang belum mempunyai patokan awal. Dan mereka menyebut tahun-tahun mereka sesuai dengan kejadian besar yang berlangsung di tahun itu. Tahun kelahiran Nabi ditandai dengan datangnya 'Pasukan Gajah' yang dipimpin Abrahah dengan tujuan ingin menghancurkan Ka’bah, untuk kemudian tahun itu disebut Tahun Gajah. Di lain pihak, Orang-orang Parsi, 'Super Power' saingan Romawi, sudah pula ribuan tahun mempergunakan Kalender Bulan. Dengan demikian, dua belahan dunia terbagi dua dalam penggunaan Kalender, sebagai usaha mereka menghitung waktu. 

Tidak heran jika kemudian kaum Nasrani terbiasa memakai kalender Masehi karena pengaruh jajahan Romawi atas Palestina, sementara ummat Islam terbiasa pula memakai kalender Bulan yang memang sudah turun-temurun berlaku pada masyarakat Arab. Namun demikian, tidaklah berarti kalender Matahari milik orang Nasrani saja, dan Kalender Bulan hanya milik orang Islam saja. Terbukti orang Jawa, orang Cina, Jepang, Korea, dan Mesir terbiasa memakai kalender Bulan, bahkan ribuan tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Sementara Suku Maya di Latin Amerika, mereka memakai Kalender Matahari juga selama ribuan tahun pula. 

Tahun Matahari 

Jika kita teliti lebih mendalam ternyata tidak satupun ayat suci pada kitab Taurat, pegangan orang Yahudi, ataupun kitab Injil pegangannya orang Nasrani, yang memuat Matahari sebagai alat perhitungan waktu. Justru hitungan waktu dengan memakai peredaran matahari didapati pada kitab suci Al Qur’an pegangannya kaum Muslimin. Lantas bagaimana bisa muncul kesimpulan bahwa tahun Matahari adalah miliknya orang Nasrani? Apakah karena mereka terbiasa memakai tahun matahari itu maka 'otomatis' Kalender Matahari menjadi milik mereka? Perlu diketahui bahwa memakai belum tentu memiliki. Memakai bisa saja diperoleh dengan cara meminjam, dan bukan mesti, memilikinya! 

Dalam Al Qur’an, pada surat Al Isra’ ayat 12 di atas, dijelaskan setidaknya ada dua fungsi matahari yang rutin dipakai keseharian ummat manusia: Pertama, untuk mempermudah mencari rezeki; dan yang kedua, untuk menghitung tahun-tahun dan waktu, yakni pemakaian kalender. Secara jelas ayat ini mengatakan bahwa dengan matahari itu manusia dapat menghitung tahun-tahun dan waktu. Yang menjadi pertanyaan, waktu apakah yang dihitung berdasarkan peredaran matahari? Tidak lain waktu matahari, bukan? Dan, tahun apakah yang dapat diketahui manusia dari peredaran matahari itu? Jawabnya tidak lain adalah tahun Matahari pula, bukan Tahun Bulan…..! 

Ibadah Dalam Agama Islam Menggunakan Waktu Matahari 

1. Sholat 

Ibadah yang paling penting dalam Islam adalah sholat fardhu lima waktu. Khusus untuk menetapkan waktunya, Allah sendiri yang menetapkannya tanpa campur tangan Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Lihat surat An Nisa' ayat 103 Artinya: “….Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” 

Ayat ini jelas mengatakan bahwa waktu sholat fardhu yang lima itu, kesemuanya ditentukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itulah sebabnya pada saat Rasulullah baru pulang dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj, Baginda telah diwajibkan untuk menjalankan sholat fardhu lima kali dalam sehari semalam. Sebagaimana diketahui Baginda diperjalankan Allah setelah waktu isya’ dan pulang kembali ke bumi saat sebelum waktu shubuh. Namun, Baginda tidak serta merta melakukan sholat fardhu shubuh. Hal ini pertama, karena Baginda belum tahu bagaimana tata cara sholat shubuh itu. Dan yang kedua, belum tahu waktu pelaksanaan sholat shubuh itu. Oleh karena itu Baginda Rasul menunggu petunjuk pelaksanaannya dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hal ini mestinya menjadi pelajaran penting bagi ummat Islam, bahwa kita mesti mengikuti Baginda Nabi dengan tidak berlagak pandai akan sesuatu perkara agama yang belum kita pelajari dari para ulama. Hal ini juga ditegaskan oleh Allah: “Dan tanya olehmu kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui”. 

Keesokan harinya pada saat tergelincir matahari, barulah Malaikat Jibril datang mengajari Nabi tata cara dan waktu sholat fardhu lima kali semalam itu. Ternyata waktu yang dipakai adalah waktu matahari, yakni waktu yang dihitung berdasarkan pergerakan matahari. Hal ini tergambar jelas pada ibadah sholat, yakni ibadah yang paling utama dalam Islam tersebut. 

Waktu sholat lima waktu itu adalah; Ketika cahaya matahari memantul di langit berwarna putih, waktu fajar mulai menyingsing, saatnya kaum muslimin sholat shubuh. Saat matahari berada tepat di atas kepala dan tergelincir sedikit ke arah barat, waktunya sholat dzuhur. Ketika matahari condong ke barat dan bayang-bayang sepanjang benda aslinya, waktunya sholat ashar. Saat matahari tenggelam di ufuk barat, adalah waktunya sholat magrib. Ketika cahaya matahari yang tertinggal di ufuk barat berupa safaq merah, saatnya waktu sholat isya. (terjemahan bebas dari hadis riwayat Imam Abu Dawud dan Turmidzi. Imam Turmidzi menghasankannya. Dan, hadits ini dishahihkan oleh Imam Hakim dan Ibnu Khuzaimah) 

2. Ibadah Puasa 

Adapun ibadah puasa memakai dua perhitungan waktu. Untuk penentuan hari pertama (satu Ramadhan), dan hari terakhir dari ibadah puasa (malam 1 Syawal) dipakai waktu berdasarkan peredaran bulan. Nabi ada bersabda: “Puasalah kamu jika kamu telah melihat bulan. Dan berhari rayalah kamu jika kamu telah melihat bulan. Namun apabila bulan tidak kelihatan, maka genapkanlah olehmu puasamu itu sebanyak 30 hari.” ( H.R. Muslim). 

Dari hadis ini jelas waktu peredaran bulan dipakai untuk menentukan hari awal dan akhir Ramadhan. Namun, untuk waktu imsyak dan waktu berbuka setiap harinya, ibadah puasa tetap memakai waktu berdasarkan peredaran matahari juga. Lihat Al Qur’an, surat Al Baqarah 187: “Maka makan dan minumlah kamu sampai terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakan puasamu itu sampai datang malam hari.” 

3. Ibadah Haji 

Dalam ibadah Haji penetapan hari-harinya seperti hari Tarwiyah, hari Arafah, hari Nahr dan 3 hari Tasyriq, semuanya memakai waktu peredaran Bulan. Lihat surah Al Baqarah ayat 189, artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji….” 

Ternyata dalam menetapkan hari-hari untuk ibadah Haji dipergunakan waktu peredaran bulan. Namun, saat dimulai dan diakhirinya pelaksanaan ibadahnya Islam memerintahkan untuk digunakan waktu matahari. Contohnya: Hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah, ditetapkan berdasarkan waktu peredaran bulan, sedangkan saat wukuf dimulai dan diakhiri dengan menggunakan peredaran waktu Matahari, yakni dimulai saat tergelincir matahari waktu Dzuhur sampai dengan tenggelamnya matahari waktu magrib. 

Dari keterangan-keterangan di atas ini, jelaslah bahwa Islam memakai perhitungan waktu peredaran matahari dan waktu peredaran bulan. Dengan demikian, sangat tidak tepat jika dikatakan Kalender Matahari atau yang populer disebut Kalender Masehi adalah kalendernya umat Nasrani, bukan kalender kita umat Islam. Padahal orang-orang Nasrani tidak pernah beribadah berdasarkan waktu matahari. Sementara itu perhitungan waktu matahari dan tahun matahari sama sekali tidak pernah disinggung pula dalam kitab suci mereka. Dan, yang ada keterangan waktu dan tahun matahari itu justru di dalam Al Qur’an, kitab sucinya umat Islam dan perhitungan tahun matahari untuk sarana peribadatan, di samping juga mempergunakan tahun perhitungan bulan. 

Kesimpulan 

Kitab suci umat Islam telah memuat penjelasan Tahun Matahari dan Tahun Bulan sekaligus di dalamnya, dan ternyata dalam prakteknya sehari-hari umat Islam di belahan bumi ini memakai pula kedua-dua kalender tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan dalam ibadah-ibadah mereka kedua-duanya dipakai juga. Artinya, selain kaum Muslimin memiliki Kalender Matahari dan Kalender Bulan dalam Kitab Sucinya, mereka juga sekaligus memakainya pula. 

Nah, kalau begitu, bagaimana Kalender Masehi bisa jadi miliknya orang Nasrani……? 

Wallahu a’lam bishshowab. 


‎(INFO UNTUK KAUM MUSLIM)

tahu kah kalian merayakan tahunbaru = merayakan hari penyembahan berhala?

"barang siapa yg menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka"
(hadis riwayat abu dawud)

sejarah tahun baru 1 januari:
mari kita buka world book encyclopedia pd thn 1984,vol 14,hal 237
"penguasa romawi julius caesar menetapkan 1 januari sebagai pemula tahun baru sejak abad ke46 SM. orang2 janus(dewa segala gerbang,pintu2 dan pemula waktu) bulan januari di ambil dari nama janus sendiri yg memiliki 2 wajah yang 1 menghadap ke(masa) depan dan 1 lagi ke(masa) lalu dan janus juga di sembah oleh kaum pegah(kafir)
perayaan ini di awali pada zaman heromaic(3600 SM) di yunani dgn di kawal oleh Freemasons( kaum yg memiliki misi untuk melenyapkan ajaran para nabi di dunia)
bentuk perayaan kaum pegan yaitu
mengitari api unggun,menyalakan kembang api,menandari pergantian dengan membunyikan lonceng atau meniup terompet.

#na'uzubillah
(ini lah yg jadi tradisi kita di akhir tahun?)

Ya ALLAH ampuni lah kelalayan kami selama ini. .

KEAJAIBAN DUNIA BERDASARKAN AL-QUR'AN

nilah 7 Keajaiban Dunia
Berdasarkan Al-
Qur'an Selama ini umat muslim di
dunia hanya tahu 7
keajaiban dunia berdasar
pilihan manusia saja namun
sudah mulai melupakan ada
7 keajaiban dunia yang telah tertulis berdasarkan
Al-Qur'an.
Nah dalam rangka untuk
mengingatkan kembali
anda semua, mari sekiranya
sebentar saja melihat 7 keajaiban dunia versi Al-
Qur'an di bawah ini.
7 Keajaiban Dunia
Berdasarkan Al-Qur'an
1. Hewan Berbicara di
Akhir Zaman Maha Suci Allah yang telah
membuat segala
sesuatunya berbicara
sesuai dengan yang Ia
kehendaki. Termasuk dari
tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah ketika terjadi hari
kiamat akan muncul hewan
melata yang akan berbicara
kepada manusia
sebagaimana yang
tercantum dalam Al-Qur’an, surah An-Naml ayat 82,
“Dan apabila perkataan
Telah jatuh atas
mereka, kami keluarkan
sejenis binatang melata
dari bumi yang akan mengatakan kepada
mereka, bahwa
Sesungguhnya manusia
dahulu tidak yakin
kepada ayat-ayat Kami”.
Mufassir Negeri Syam, Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-
Dimasyqiy berkomentar
tentang ayat di atas,
“Hewan ini akan keluar
diakhir zaman ketika
rusaknya manusia, dan mulai meninggalkan
perintah-perintah Allah,
dan ketika mereka
telah mengganti agama
Allah. Maka Allah
mengeluarkan ke hadapan mereka
hewan bumi. Konon
kabarnya, dari Makkah,
atau yang lainnya
sebagaimana akan
datang perinciannya. Hewan ini akan
berbicara dengan
manusia tentang hal
itu”.[Lihat Tafsir Ibnu
Katsir (3/498)]
Hewan aneh yang berbicara ini akan keluar di akhir
zaman sebagai tanda akan
datangnya kiamat dalam
waktu yang dekat. Nabi -
Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
bersabda, “Sesungguhnya tak
akan tegak hari kiamat,
sehingga kalian akan
melihat sebelumnya 10
tanda-tanda kiamat:
Gempa di Timur, gempa di barat, gempa di
Jazirah Arab, Asap,
Dajjal, hewan bumi,
Ya’juj & Ma’juj, terbitnya
matahari dari arah
barat, dan api yang keluar dari jurang
Aden, akan menggiring
manusia”. [HR. Muslim
dalam Shohih-nya
(2901), Abu Dawud
dalam Sunan-nya (4311), At-Tirmidziy
dalam Sunan-nya
(2183), dan Ibnu Majah
dalam Sunan-nya
(4041)]
2. Pohon Kurma yang Menangis
Adanya pohon kurma yang
menangis ini terjadi di
zaman Rasulullah -
Shollallahu ‘alaihi
wasallam- , mengapa sampai pohon ini
menangis?
Kisahnya, Jabir bin Abdillah-
radhiyallahu ‘anhu-
bertutur,
“Jabir bin Abdillah - radhiyallahu ‘anhu-
berkata: “Adalah
dahulu Rasulullah -
Shollallahu ‘alaihi
wasallam- berdiri
(berkhutbah) di atas sebatang kurma, maka
tatkala diletakkan
mimbar baginya, kami
mendengar sebuah
suara seperti suara
unta dari pohon kurma tersebut hingga
Rasulullah -Shollallahu
‘alaihi wasallam- turun
kemudian beliau
meletakkan tangannya
di atas batang pohon kurma tersebut” .[HR.Al-
Bukhariy dalam Shohih-
nya (876)]
Ibnu Umar-radhiyallahu
‘anhu- berkata,
“Dulu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
berkhuthbah pada
batang kurma. Tatkala
beliau telah membuat
mimbar, maka beliau
berpindah ke mimbar itu. Batang korma itu
pun merintih. Maka
Nabi -Shollallahu ‘alaihi
wasallam-
mendatanginya
sambilmengeluskan tangannya pada batang
korma itu (untuk
menenangkannya)”.
[HR. Al-Bukhoriy dalam
Shohih-nya (3390), dan
At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (505)]
3. Untaian Salam Batu
Aneh
Mungkin kalau seekor
burung yang pandai
mengucapkan salam adalah perkara yang sering kita
jumpai. Tapi bagaimana jika
sebuah batu yang
mengucapkan salam.
Sebagai seorang hamba
Allah yang mengimani Rasul-Nya, tentunya dia
akan membenarkan seluruh
apa yang disampaikan oleh
Rasul-Nya, seperti
pemberitahuan beliau
kepada para sahabatnya bahwa ada sebuah batu di
Mekah yang pernah
mengucapkan salam
kepada beliau sebagaimana
dalam sabdanya,
Dari Jabir bin Samurah dia berkata, Rasulullah -
Shollallahu ‘alaihi wasallam-
bersabda,
“Sesungguhnya aku
mengetahui sebuah
batu di Mekah yang mengucapkan salam
kepadaku sebelum aku
diutus, sesungguhnya
aku mengetahuinya
sekarang”.[HR.Muslim
dalam Shohih-nya (1782)].
4. Pengaduan Seekor Onta
Manusia adalah makhluk
yang memiliki perasaan.
Dari perasaan itu timbullah
rasa cinta dan kasih sayang di antara mereka. Akan
tetapi ketahuilah, bukan
hanya manusia saja yang
memiliki perasaan, bahkan
hewan pun memilikinya.
Oleh karena itu sangat disesalkan jika ada manusia
yang tidak memiliki
perasaan yang membuat
dirinya lebih rendah
daripada hewan. Pernah
ada seekor unta yang mengadu kepada Rasulullah
-Shollallahu ‘alaihi wasallam-
mengungkapkan
perasaannya.
Abdullah bin Ja’far-
radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Pada suatu hari
Rasulullah -Shallallahu
‘alaihi wasallam-
pernah
memboncengku
dibelakangnya, kemudian beliau
membisikkan tentang
sesuatu yang tidak
akan kuceritakan
kepada seseorang di
antara manusia. Sesuatu yang paling
beliau senangi untuk
dijadikan pelindung
untuk buang hajatnya
adalah gundukan tanah
atau kumpulan batang kurma. lalu beliau
masuk kedalam kebun
laki-laki Anshar. Tiba
tiba ada seekor onta.
Tatkala Nabi -Shallallahu
‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu
merintih dan bercucuran air
matanya. Lalu Nabi -
Shallallahu ‘alaihi
wasallam-mendatanginya seraya
mengusap dari perutnya sampai ke
punuknya dan tulang
telinganya, maka
tenanglah onta itu.
Kemudian beliau
bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta
ini milik siapa?” Lalu
datanglah seorang
pemuda Anshar seraya
berkata, “Onta itu
milikku, wahai Rasulullah”
.
Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi
wasallam- bersabda,
“Tidakkah engkau
bertakwa kepada Allah dalam binatang ini,
yang telah dijadikan
sebagai milikmu oleh
Allah, karena ia
(binatang ini) telah
mengadu kepadaku bahwa engkau telah
membuatnya letih dan
lapar”. [HR. Abu Dawud
dalam As-Sunan
(1/400), Al-Hakim
dalam Al-Mustadrak (2/99-100), Ahmad
dalam Al-Musnad
(1/204-205), Abu Ya’la
dalam Al-Musnad
(3/8/1), Al-Baihaqiy
dalam Ad-Dala’il (6/26), dan Ibnu Asakir dalam
Tarikh Dimasyqa
(9/28/1). Lihat Ash-
Shahihah (20)]
5. Kesaksian Kambing
Panggang Kalau binatang yang masih
hidup bisa berbicara adalah
perkara yang ajaib, maka
tentunya lebih ajaib lagi
kalau ada seekor kambing
panggang yang berbicara. Ini memang aneh, akan
tetapi nyata. Kisah kambing
panggang yang berbicara
ini terdapat dalam hadits
berikut:
Abu Hurairah-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
“Rasulullah -Shollallahu
‘alaihi wasallam-
menerima hadiah, dan
tak mau makan
shodaqoh. Maka ada seorang wanita Yahudi
di Khoibar yang
menghadiahkan
kepada beliau kambing
panggang yang telah
diberi racun. Lalu Rasulullah -Shallallahu
‘alaihi wa sallam- pun
memakan sebagian
kambing itu, dan kaum
(sahabat) juga makan.
Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
“Angkatlah tangan
kalian, karena kambing
panggang ini
mengabarkan
kepadaku bahwa dia beracun”. Lalu
meninggallah Bisyr bin
Al-Baro’ bin MA’rur Al-
Anshoriy. Maka Nabi -
Shallallahu ‘alaihi wa
sallam- mengirim (utusan membawa
surat), “Apa yang
mendorongmu untuk
melakukan hal itu?”
Wanita itu menjawab,
“Jika engkau adalah seorang nabi, maka
apa yang aku telah
lakukan tak akan
membahayakan dirimu.
Jika engkau adalah
seorang raja, maka aku telah melepaskan
manusia darimu”.
Kemudian Rasulullah -
Shallallahu ‘alaihi wa sallam-
memerintahkan untuk
membunuh wanita itu, maka ia pun dibunuh.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa
sallam- bersabda ketika
beliau sakit yang
menyebabkan kematian
beliau, ”Senantiasa aku
merasakan sakit akibat
makanan yang telah
aku makan ketika di
Khoibar. Inilah saatnya
urat nadi leherku terputus”. [HR. Abu
Dawud dalam Sunan-
nya (4512). Di-shohih-
kan Al-Albaniy dalam
Shohih Sunan Abi
Dawud (hal.813), dengan tahqiq Masyhur
Hasan Salman]
6. Batu yang Berbicara
Setelah kita mengetahu
adanya batu yang
mengucapkan salam, maka keajaiban selanjutnya
adalah adanya batu yang
berbicara di akhir zaman.
Jika kita pikirkan, maka
terasa aneh, tapi
demikianlah seorang muslim harus mengimani
seluruh berita yang
disampaikan oleh Rasulullah
-Shollallahu ‘alaihi
wasallam-, baik yang masuk
akal, atau tidak. Karena Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa
sallam- tidaklah pernah
berbicara sesuai hawa
nafsunya, bahkan beliau
berbicara sesuai tuntunan
wahyu dari Allah Yang Mengetahui segala perkara
ghaib.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi
wa sallam- bersabda,
“Kalian akan
memerangi orang- orang Yahudi sehingga
seorang diantara
mereka bersembunyi di
balik batu. Maka batu
itu berkata, “Wahai
hamba Allah, Inilah si Yahudi di belakangku,
maka bunuhlah ia”. [HR.
Al-Bukhoriy dalam
Shohih-nya (2767), dan
Muslim dalam Shohih-
nya (2922)] Al-Hafizh Ibnu Hajar-
rahimahullah- berkata,
“Dalam hadits ini
terdapat tanda-tanda
dekatnya hari kiamat,
berupa berbicaranya benda-benda mati,
pohon, dan batu.
Lahiriahnya hadits ini
(menunjukkan) bahwa
benda-benda itu
berbicara secara hakikat”.[Lihat Fathul
Bari (6/610)]
7. Semut Memberi
Komando
Mungkin kita pernah
mendengar cerita fiktif tentang hewan-hewan
yang berbicara dengan
hewan yang lain. Semua itu
hanyalah cerita fiktif belaka
alias omong kosong. Tapi
ketahuilah wahai para pembaca, sesungguhnya
adanya hewan yang
berbicara kepada hewan
yang lain, bahkan memberi
komando, layaknya seorang
komandan pasukan yang memberikan perintah.
Hewan yang memberi
komando tersebut adalah
semut. Kisah ini
sebagaimana yang
dijelaskan oleh Al-Qur’an, “Dan Sulaiman Telah
mewarisi Daud, dan dia
berkata: “Hai manusia,
kami Telah diberi
pengertian tentang
suara burung dan kami diberi segala sesuatu.
Sesungguhnya (semua)
Ini benar-benar suatu
kurnia yang nyata”.Dan
dihimpunkan untuk
Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan
burung lalu mereka itu
diatur dengan tertib
(dalam barisan).
Hingga apabila mereka
sampai di lembah semut, berkatalah
seekor semut: Hai
semut-semut, masuklah
ke dalam sarang-
sarangmu, agar kamu
tidak diinjak oleh Sulaiman dan
tentaranya, sedangkan
mereka tidak
menyadari.Maka dia
(Sulaiman) tersenyum
dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan
semut itu. dan dia
berdoa: “Ya Tuhanku
berilah Aku ilham untuk
tetap mensyukuri
nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan
kepadaku dan kepada
dua orang ibu bapakku
dan untuk
mengerjakan amal
saleh yang Engkau ridhai; dan
masukkanlah Aku
dengan rahmat-Mu ke
dalam golongan
hamba-hamba-Mu yang
saleh”. (QS.An-Naml: 16-19).
Ya itulah 7 keajaiban dunia
yang diambil berdasarkan
Al-Qur'an yang mana jika
terungkap lebih luas lagi
tentu akan membuat dunia tercengang


Senin, 02 Januari 2012

BPS: Jumlah Penduduk Miskin 29,89 Juta Orang

BPS: Jumlah Penduduk Miskin 29,89 Juta Orang

Jakarta (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada September 2011 mencapai 29,89 juta orang atau menurun 0,13 juta orang dibandingkan Maret 2011 sebesar 30,02 juta orang.
Pelaksana tugas Kepala BPS Suryamin di Jakarta, Senin, mengatakan selama periode Maret hingga September penurunan jumlah penduduk miskin terbanyak terjadi di daerah perkotaan yang berkurang 0,09 juta orang.
"Jumlahnya menurun dari 11,05 juta orang menjadi 10,95 juta orang," ujarnya.
Sementara penduduk miskin di daerah pedesaan berkurang 0,04 juta orang dari sebelumnya 18,97 juta orang menjadi 18,94 juta orang.
Suryamin mengatakan secara persentase jumlah penduduk miskin tersebut menurun dari 12,49 persen menjadi 12,36 persen atau sekitar 0,13 persen.
Menurut dia, penurunan jumlah penduduk miskin tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yaitu selama periode Maret hingga September, inflasi umum relatif rendah yaitu 2,25 persen.
"Beberapa komoditas bahan pokok seperti minyak goreng, gula pasir, cabai rawit dan cabai merah mengalami penurunan harga ecerannya," ujar Suryamin.
Kemudian, adanya perbaikan penghasilan petani yang ditunjukkan oleh kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 1,79 persen dari 103,32 pada Maret menjadi 105,17 pada September.

Perekonomian pada triwulan III juga membantu penurunan jumlah penduduk miskin karena tumbuh sebesar 6,5 persen serta pengeluaran konsumsi rumah tangga yang meningkat sebesar 3,6 persen dibandingkan periode triwulan I.
"Selain itu pertumbuhan industri manufaktur mikro dan kecil pada triwulan I, II dan III mengalami peningkatan sebesar 1,26 persen, 1,48 persen dan 2,21 persen," kata Suryamin.
Suryamin menambahkan tingkat pengangguran terbuka juga mengalami penurunan 0,24 persen dari Februari ke Agustus dan ikut membantu menurunkan jumlah penduduk miskin.
Ia mengatakan peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan.
"Komoditi yang berpengaruh adalah beras, rokok kretek filter, gula pasir, telur ayam ras, mie instan, tempe dan tahu. Sedangkan komoditi bukan makanan adalah biaya perumahan, listrik, angkutan dan pendidikan," ujar Suryamin.
Sementara, garis kemiskinan yang dipergunakan sebagai batas untuk menentukan miskin atau tidaknya seseorang juga naik 4,27 persen dari Rp233.740 per kapita per bulan pada Maret, menjadi Rp243.729 per kapita per bulan pada September.
Secara persentase, lanjut Suryamin, penduduk miskin terbesar berada di Maluku dan Papua 25,25 persen dan terkecil di Kalimantan 6,88 persen.
Namun, dari jumlah penduduk sebagian besar penduduk miskin berada di Jawa sebesar 16,74 juta orang dan terkecil di Kalimantan 0,97 juta orang.
Direktur Statistik Ketahanan Sosial BPS Hamonangan Ritonga mengatakan jumlah penduduk miskin memang menurun, namun jumlahnya tidak begitu signifikan, apalagi jumlah penduduk hampir miskin justru meningkat.
"Penduduk miskin itu lambat sekali penurunannya karena kita sudah pada kondisi masyarakat kemiskinan kronis atau `hardcore poverty`," ujarnya.
Menurut dia, dengan situasi saat ini kesejahteraan hanya dinikmati oleh kelas menengah yang mempunyai modal dalam mendukung pertumbuhan nasional.
Namun, bagi masyarakat yang berada jauh dari pantauan pemerintah, mereka rentan menjadi penduduk miskin karena bantuan seperti beras raskin dan skema bantuan sosial lainnya tidak terjangkau.
"Jadi kalau menargetkan penurunan satu persen jumlah penduduk miskin setiap tahun itu berat, apalagi mereka yang kurang berdaya tinggal di daerah-daerah yang jauh dari jangkauan pemerintah," kata Hamonangan.
Ia menyarankan agar jumlah penduduk miskin makin berkurang, pemerintah harus fokus memberikan bantuan sosial secara tepat sasaran karena saat ini banyak sekali bantuan yang kurang tersalurkan dengan baik.
"Ini pada taraf kemiskinan yang kronis. Amerika Serikat saja penduduk miskinnya 15 persen, ini susah menurunkannya. Satu-satunya cara harus tepat sasaran," ujarnya.